Jantung ku berdebar kencang saat melihat bodynya
Suara grusak grusuk membangunkanku pagi ini, pandanganku sedikit nanar karena tidurku tak nyenyak. Aku sedikit menggeliat dan kemudian kukucek-kucek mataku hingga pandanganku jelas. Ohhh ternyata suara tadi berasal dari Kak Chika yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untukku. Ahhhh, aku bangga memiliki kakak seperti dia, tapi saat ini kebanggaanku memudar, berubah menjadi nafsu yang tinggi. Belahan pantatnya terlihat begitu jelas ketika sinar matahari pagi menyorot tubuhnya yang sedang membelakangiku. Libidoku naik kembali, padahal semalam sempat terpuaskan oleh permainan tanganku dan juga akibat kugesek-gesekkan di bokong itu.
Ohhhh, entah mengapa aku jadi benar-benar gila, pantat mungilnya begitu seksi, ingin sekali rasanya kurengkuh tubuh mungil kak Chika dari belakang. Kudekap, kupeluk sambil kuremas dan kumainkan puting susunya, lalu menyodok memeknya dari belakang. Ingin sekali rasanya kutumpahkan pejuku ke dalam rahim kakak kandungku sendiri, membuatnya berteriak akibat kenikmatan yang ia rasakan, ingin sekali kubuat kak Chika menangis akibat merasakan perih saat kontolku merobek selaput daranya… “Ehhh dek, udah bangun, sarapan gih”, kata Kak Chika begitu mengejutkanku. Bayangan diriku menyetubuhinya langsung terhapus begitu saja.
Akupun beranjak dari kasur Kak Chika, menuju kamar mandi. Kutumpahkan semua air seni yang sudah memenuhi kantung kemihku. Rasanya begitu lega, tapi ternyata sama sekali tidak dapat membantu menjinakkan “adik kecil” ku yang benar-benar berdiri tegak akibat pemandangan serta imajinasi yang begitu liar tadi. Ahhhh kupejamkan mataku, kubayangkan kak Chika sedang berada di hadapanku, menunduk lalu mulai mengisap kontolku. Ahhhhhh, betapa nikmatnya, ohhhhh, kenikmatan pagi kurasakan saat tanpa tersadar aku sudah mengocok kontolku. Sssshhhhh, ahhhhhh, pagi hari memang waktu yang tepat untuk memanjakan “adik kecil”, morning weed yang begitu berbahaya, ohhhhhh.
Kreeeeekkk, tiba-tiba kak Chika masuk ke kamar mandi, sempat melirik ke arahku kemudian ke arah kontolku yang sudah kututup menggunakan kedua tanganku. Ia sempat tersenyum lalu kemudian mencuci tangannya di wastafel. Wajahku menjadi pucat akibat rasa malu yang kutanggung. Kak Chika pun kembali melangkah ke luar. “Sarapan dek, nanti dilanjut itunya”, kata Kak Chika kemudian berlalu meninggalkan kamar mandi. Aku sempat bertanya-tanya, apa maksud perkataannya? “Nanti dilanjut itunya …”, hmmmm itu apa yah? Aku terus bertanya dalam hati sambil memakai kembali celana kolorku dan kemudian berjalan menuju meja makan.Langkahku begitu lemah, aku menunduk dan benar-benar tidak berani memandang langsung ke wajah kak Chika. Aku benar-benar canggung terhadapnya saat ini. Padahal sempat kulirik ia sedang tersenyum ke arahku. Entah ia menertawai kelakuanku ataukah ia memang tersenyum ikhlas padaku. Hmmm … Rasanya begitu tak karuan.
Akupun duduk secara perlahan di meja makan milik kak Chika. Kuminum teh hangat terlebih dahulu dan kemudian kusantap nasi goreng dan omelete buatannya. “Dek”, kata kak Chika, deg tiba-tiba jantungku hampir saja copot, aliran darahku seolah berhenti, tubuhku menjadi kejang, wajahku pucat, entah apa yang akan dikatakan oleh kak Chika. “Seandainya kakak foto bugil, boleh gak?”, tanya kak Chika kepadaku.
Hmmmm, jantungku serasa berdenyut kembali, lega rasanya Kak Chika tidak membahas kelakuanku semalam. “Eeee … eee.. ter .. terserah kakak”, jawabku dengan terbata-bata, “Ihhh dek, kok kyk orang gagap gitu ngomongnya, biasa aja dek”, kata kak Chika kembali, “Ehhh ii .. iya kak .. maa .. maaf”, jawabku. Entah mengapa aku menjadi benar-benar gugup dan canggung terhadap kakak kandungku ini, padahal sebelumnya aku biasa saja.
“Ada orang Jepang mau bayar kakak mahal buat foto bugil, tapi cuma jadi koleksi pribadi dan gak akan disebar katanya”, kata Kak Chika kembali. “Mmmm .. iii.. iya kak”, jawabku. “Ihhh deeek, kamu tu kenapa sih? Liat kakak donk kalo kakak ngomong”, protes Kak Chika. Ya, semenjak tadi aku hanya menunduk, aku tak berani memandang wajah cantiknya, aku benar-benar canggung, “Maa … maaf kak”, kataku sambil sedikit menatap matanya. Ohhhh .. pandangan sayu kakakku benar-benar membuat bulu kudukku merinding, di satu sisi aku benar-benar ketakutan dan merasa beralah, tapi di sisi lain aku benar-benar bernafsu pada tatapan innocent dari Kak Chika. Aku hanya bisa bertahan beberapa detik memandang wajah kakakku, kemudian aku kembali menunduk.
“Kenapa sih Dik?”, tanya Kak Chika yang begitu tak suka dengan kelakuanku saat ini, “Mmm… mmaaf kak .. tapi aa .. aku malu”, jawabku mencoba untuk jujur pada Kak Chika, “Malu kenapa? Gara-gara semalem?”, tanya Kak Chika kembali. Deg … jantungku kembali berhenti berdenyut, tubuhku kembali tegang, ohh nooo, ia mengungkit kejadian semalam. Aku benar-benar kaku, jangankan menatap wajahnya, mengangkat sendok pun aku tak mampu.
“Udah lupain dek, kakak ngerti, kamu masuk masa pubertas, libidomu lagi tinggi-tingginya, itu juga salah kakak kok yang sering buka-bukaan di depan kamu”, kata Kak Chika sambil kembali menyantap nasi goreng buatannya sendiri. Serrrrrr, darahku seakan-akan mengalir deras ke seluruh tubuh, jantungku kembali berdegub dengan kencangnya bak genderang perang yang sudah ditabuh, pandanganku yang tertunduk sejak tadi langsung menatap tajam ke arah Kak Chika. Entah, apakah ini yang dinamakan angin surga? Wajahku seakan-akan terkena desiran sejuk angin surga tersebut. Ini pertanda Kak Chika tidak mempermasalahkan apa yang kuperbuat semalam.
“Kakak gak marah?”, tanyaku kembali, serasa ingin memastikan. Kak Chika terlihat begitu santai sambil mengunyah makanannya, kemudian mengambil teh hangat yang ada disampingnya dan gleeg gleeg, dua tegukan membantu mendorong makanan masuk ke dalam perutnya. “Hmmmm, kesel sih, tapi yaa mau gimana lagi, kasian kamu”, kata Kak Chika.
Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan jawabannya, “Kasian kenapa kak?”, tanyaku begitu penasaran, “Yaa kasian aja, kakak tau kok, sejak beberapa hari yang lalu kamu selalu memperhatikan tubuh kakak”, kata Kak Chika, “Kakak juga tau, Kamis kemarin waktu gak ada orang di rumah, yang mecahin vas bunga di samping kamar mandi itu kamu kan dek, gara-gara kamu manjat buat ngintip kakak mandi”, kata Kak Chika kembali. Oh tidaaaaakkk, rasanya kak Chika melucutiku, menelanjangiku, aku benar-benar terciduk, kututup wajahku, aku benar-benar malu.
“Udah dek, biasa aja, kakak gpp kok”, kata Kak Chika kembali. Hmmmmm, aku menghela nafas, coba melancarkan kembali peredaran darahku, “Kakak beneran gak marah?”, tanyaku ingin memastikan, “Iyaa gpp, cuma satu pesan kakak, kamu gak boleh melakukan sex bebas di luar sana ya, kakak gak mau kamu terjerumus di dunia seperti itu”, kata Kak Chika sambil kembali mengunyah makanannya. Ohhh wajahnya begitu cantik, matanya begitu sayu, perkataannya membuatku luluh dan kembali meningkatkan libidoku. “Kalo aku pingin gimana kak?”, aku mulai berani bertanya sedikit nakal pada Kak Chika, “Kalo pingin lampiaskan ama kakak aja, pokoknya kamu gak boleh sex bebas ama cewek lain sebelum nikah”, kata Kak Chika.
Hmmm .. Aku sempat bingung, apakah sikapnya ini adalah sikap wajar seorang kakak yang ingin melindungi adiknya dari pergaulan bebas sehingga ia rela menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati? Ataukah memang ia juga ingin merasakan kenikmatan berhubungan seksual denganku? “Dek, abisin gih nasinya, jangan pandangin kakak kyk gitu”, kata Kak Chika menyadarkan lamunanku.
Hmmmm … kuhabiskan nasi goreng buatan kakakku yang cantik ini, kemudian Kak Chika mengambil piring kosongku, ia pun berjalan arah wastafel dan menaruh piring itu di sana. Yaa, sudah bisa ditebak, pandanganku saat ini terfokus pada pantat Kak Chika yang mungil namun seksi itu. Ahhhh, sudah waktunya bagiku untuk melampiaskan segalanya ..
“Kak”, panggilku, “Ya dek”, jawab kak Chika menoleh ke arahku, “Kalo aku pingin minta lebih boleh gak?”, tanyaku, entah mengapa saat ini aku tidak lagi gugup, “Lebih gimana?”, tanya Kak Chika. Ya elah, masih pura-pura bertanya, “Hmmm .. ya lebih Kak, pingin itunya kakak”, jawabku sambil menunjuk ke arah memek kak Chika, “Hmmm, kamu mau ML ama kakak?”, tanya Kak Chika. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. “Yaa terserah kamu dek, asal gak canggung aja”, kata Kak Chika, “Canggung gimana kak?”, tanyaku kembali, “Yaa canggung aja ML ama kakak sendiri, kalo kakak sih masih agak canggung, agak aneh aja gituan ama adik sendiri”, kata kak Chika sambil berjalan mendekatiku, “Hmmm .. Cobain yuk kak”, kataku, “Sekarang?”, tanya Kak Chika kembali, aku kembali mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Kakak harus gimana nih dek?”, tanya Kak Chika, “Mmmm .. kakak tiduran deh”, jawabku. Kemudian Kak Chika merebahkan dirinya di kasur, “Buka dulu donk kak”, pintaku kembali, “Maksudnya, kakak telanjang gitu?”, tanya Kak Chika, “Iya kak”, jawabku. Kak Chika kembali berdiri, dan dengan lugas dan tanpa hambatan melepas baju dan juga celananya.
Gleeggg, aku menelan ludah, mataku terbelalak melihat kakakku yang cantik, imut dan mungil ini bugil di hadapanku. Kak Chika menutupi payudara dan juga kemaluannya dengan kedua tangannya, kemudian kembali menjatuhkan dirinya ke atas kasur di belakangnya. Oh My …. Keindahan apa yang kulihat saat ini …
Serasa tak ingin menyia-nyiakan waktu, kutanggalkan seluruh pakaianku hingga akhirnya akupun telanjang bulat. Kunaiki kasur kakakku, dan kunaiki tubuh kecilnya. Tiba-tiba kak Chika tertawa sambil memejamkan mata, entah mengapa di saat seperti ini ia malah tertawa, “Kok ketawa sih kak?”, tanyaku dengan nada kesal. “Gpp dek, lucu aja, dulu kita sering mandi bareng, sekarang malah mau entotin kakak, aneh aja sih rasanya”, kata Kak Chika.
Tak kupedulikan apa yang ia katakan, kini tubuhku tepat berada di atas tubuh bugil kakakku. Kutindih tubuhnya dengan pelan, dan hal pertama yang kulakukan adalah meraih payudaranya, kemudian meremasnya dan kukulum. Kuisap-isap puting susu kak Chika. Kontolku saat ini berada di sela-sela paha kak Chika, rasanya begitu hangat. Kujilati puting susunya, kugigit pelan, tanganku begitu kasar meremas payudaranya. Tapi ada yang aneh, Kak Chika tidak beraksi sedikitpun, ia hanya melihat kelakuanku. “Kaak, kakak gak suka ya?”, tanyaku dengan wajah memelas, “Ehhh suka kok dek, masih aneh aja sih, tapi gpp, terusin aja dek”, kata Kak Chika kembali.
Kembali kuisap puting susunya sebelah kiri Kak Chika, sementara itu tangan kananku sibuk meremas payudara kanannya. Inilah pengalaman pertamaku meniduri seorang gadis, dan ia adalah kakak kandungku sendiri. Ssshhhhh, nafas kak Chika menjadi berat, lenguhan ringan sayup-sayup terdengar masuk ke telingaku. Kutatap wajahnya, ternyata Kak Chika terpejam, ia menggigit bibir bawahnya, rupanya Kak Chika mulai menikmati apa yang kulakukan.
Kupelintir puting susunya sambil sesekali kuremas kasar. Mataku tidak bisa terlepas dari wajah sayu dan cantik kak Chika yang sedang menikmati perlakuanku saat ini. Secara perlahan kak Chika mulai mengangkangkan kakinya. Kontolku yang sudah ngaceng sejak tadi merasakan kehangatan saat menyentuh bibir kemaluan kak Chika. Merasakan hal itu, aku menggoyangkan pinggulku, menggesek-gesekkan kontolku di kemaluan Kak Chika.
“Ehhhhhhh ….”, desahan yang begitu pelan mulai terdengar di mulut kak Chika. Kugesek terus kontolku hingga aku merasakan memek kak Chika basah dan menjadi licin. Entah mengapa bisa demikian, namun hal itu membuatku makin leluasa menggesek-gesekkan kontolku. Ahhhhh, rasanya begitu nikmat, kugesek-gesek dengan lembut, hingga akhirnya kak Chika menekuk lututnya, mengangkang begitu lebar, seakan-akan menyerahkan lubang perawannya untuk segera kujebol.
“Kak, aku masukin ya”, pintaku di telinga kak Chika, “Ahhhhh, iya dek, pelan-pelan ya”, kata kak Chika sambil tetap memejamkan matanya. Aku pun berjongkok, memegang kontolku, mengarahkannya tepat ke depan lubang memek Kak Chika, kugesek-gesek ujung kepala kontolku, kutekan sedikit, prosesi yang sungguh membuatku berdegub kencang. Ini bukan hanya tentang aku akan menjebol keperawanan kakak aku, tapi juga ini adalah detik-detik aku melepas keperjakaan aku. “Ahhhhhh …”, kak Chika mendesah, entah ia merasakan sakit atau nikmat saat aku terus menekan kontolku di lubang memeknya. Rasanya sedikit tertahan, terus kutekan, dan blessss, Ahhhhhh, shiiiit, kontolku terbenam di dalam lubang kenikmatan kak Chika. “Ehhhhhh”, lenguhan panjang kak Chika sambil kembali memejamkan mata. Rupanya ia menahan perih.
Akhirnya, prosesi pelepasan keperjakaanku dan keperawanan kak Chika berakhir sudah. Kutindih tubuh kak Chika kembali, kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, menikmati nikmatnya memek Kak Chika. “Ahhhhh, ahhhhh”, desahan Kak Chika agak sedikit tertahan, tapi yang pasti inilah rasa memek yang sebenarnya, begitu nikmat, tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Kupegang kepala kak Chika dan kemudian kucium bibirnya. Baru saja sepersekian detik bibirku menyentuh bibir kak Chika, tiba-tiba ia melumat bibirku, lidahnya langsung menjilat dan bermain begitu kasar di dalam mulutku. Ohhhh nikmatnya berciuman dengan kakakku ini.
Sleppp sleppp sleppp, bunyi gesekan kontolku dengan dinding vagina kak Chika yang begitu sempit terdengar begitu khas dan makin meningkatkan nafsuku. Genjotanku makin kasar di memek kak Chika. Ia meracau namun suaranya tetap tertahan karena tertutup oleh ciuman kasarku. Plak plak plak, suara gesekan yang awalnya begitu lembut, kini makin kasar, seiring dengan kecepatan genjotanku yang makin menjadi. “Kaaaakk, ahhhhh”, kataku sambil mendesah, “Iyaa deeek, kakak mau sampe deeek”, kata kak Chika.
Walaupun ini pengalaman pertamaku ML, tapi aku mengerti dengan istilah-istilah seperti itu. Aku tau Kak Chika akan mengalami orgasme. Aku pun mengubah posisiku yang tadi menindih tubuhnya kini duduk sambil terus menggenjot memek Kak Chika. Kuremas dengan kasar kedua payudaranya, membuat mata Kak Chika terbelalak menatapku tajam. Tatapannya justru membuatku makin bernafsu, plak plak plak plak, sodokanku makin keras, tubuh kak Chika menggelinjang hebat, “Ahhhh deeeekkk, yang keras deek”, pinta kak Chika sambil menggeliat. Kak Chika mengangkat pantatnya , hingga kontolku menancap makin dalam, “Ahhhhhh”, entah mengapa aku merasakan lonjakan nafsuku tiba-tiba akan meledak. Bagaikan bom waktu yang beberapa detik lagi akan meledak.
Baca Juga : Perawan Ku Diambil Adiku Sendiri Saat Aku Tidur
“Ahhhhhh kaaak, aku mau keluaaaar, kaaaak”, aku berteriak sambil memegang pinggul kak Chika, menyodok memeknya sekasar mungkin, “Ahhhh diiiikkk, ahhhhh kaaa … kaaak keluu aaa…. ahhhhh”, terus kugenjot memek kak Chika sambil tetap kuangkat pantatnya dengan kedua tanganku, “Ahhhh kaaaaakkkk”, srrrrr srrrr srrrrr, wowwwww, ahhhhhh pejuku tumpah, membanjiri dinding rahim kak Chika, Ohh shiiiittt, ini pertama kalinya aku merasakan kenikmatan yang hakiki. Kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tetap kutancapkan kontolku di dalam memek kak Chika sambil terus merasakan sisa-sisa kenikmatan yang terus mengalir membasahi memek kak Chika.
Tubuh kak Chika terkulai lemas, matanya terpejam, sementara itu aku tetap semangat, hingga akhirnya, braaaak, kutindih tubuh kak Chika. Tubuhku pun menjadi lemah lunglai, “Kok keluarin di dalem sih dek”, kata Kak Chika. Rasanya lidahku begitu kelu, aku tak mampu menjawabnya karena desiran kenikmatan yang begitu luar biasa tadi.
“Dek, anter kakak kuliah ya, ntar sore anter kakak foto lagi ya”, kata Kak Chika yang masih kutindih. “Iya kakakku sayang”, jawabku. “Kak, aku nginep di sini lagi ya”, pintaku, “Yeee, pasti ketagihan pingin entotin kakak ya”, kata kak Chika sambil tersenyum ke arahku. Ohhhh.. senyuman yang begitu manis dan kubalas dengan senyum juga.
Entah berapa lama kutindih tubuh mungil kak Chika, hingga akhirnya ia menggeliat dan berhasil melepaskan diri. Masuk ke dalam kamar mandi.
Hmmmm … inilah kisah ML pertamaku, apakah ini akan menjadi perjalanan liar dalam hidupku? Ohhh kakakku sayang, sensasi pagi yang begitu luar biasa. Semoga ini terus berlanjut. Tubuh mungil kakakku sangat nikmat. Love you kak.
|
0 komentar:
Posting Komentar